Kekerasan OPM di Yahukimo Ganggu Rasa Aman Masyarakat
Yahukimo- Aksi kekerasan yang diduga dilakukan kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali terjadi di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, dan menimbulkan gangguan serius terhadap rasa aman masyarakat. Seorang sopir truk menjadi korban penembakan di Distrik Dekai saat menjalankan aktivitas rutin,…
Kekejaman OPM Melampaui Batas Kemanusiaan, Tokoh Papua Dukung Penindakan Tegas
Oleh: Yohan Yikwa *) Eskalasi tindak kriminalitas yang dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) di wilayah Papua telah mencapai tahapan yang melampaui batas kemanusiaan dan mencederai kedaulatan bangsa. Rentetan aksi teror yang menyasar warga sipil tidak bersenjata di Kabupaten Yahukimo…
OPM Teror Rakyat, Negara Tegas Menjaga Papua Tetap Aman dan Damai
Oleh: Elisabeth Kogoya* Aksi separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali menegaskan bahwa kelompok ini sebagai pelaku teror yang mencederai nilai kemanusiaan, merusak ketertiban umum, dan menghambat masa depan Papua. Serangkaian peristiwa kekerasan yang terjadi di Papua Tengah dan Papua Pegunungan…
Pemerintah Intensifkan Trauma Healing di Pengungsian Pascabencana Sumatra
Aceh – Pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan terus mengintensifkan upaya pemulihan psikososial bagi anak-anak di pengungsian pascabencana di wilayah Sumatra dan Aceh. Penanganan ini dipandang krusial mengingat anak-anak mencapai sekitar 36 persen dari total pengungsi, sehingga pemulihan tidak boleh berhenti…
Pemerintah Perluas Layanan Trauma Healing Pascabencana Sumatra
Jakarta — Pemerintah terus memperkuat kehadiran negara dalam pemulihan pascabencana di wilayah Sumatra dengan memperluas layanan trauma healing bagi masyarakat terdampak. Melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN terus memberikan layanan kontrasepsi KB dan memulihkan trauma korban banjir Sumatera, termasuk…
Trauma Healing, Upaya Strategis Negara Pulihkan Generasi Pascabencana Sumatra
Oleh : Nancy Dora Bencana ekologis yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Aceh kembali menegaskanbahwa dampak kebencanaan tidak berhenti pada kerusakan fisik dan kerugian material. Di balikrumah yang runtuh, jalan yang terputus, dan fasilitas umum yang rusak, terdapat luka psikis yang jauh lebih dalam, terutama pada anak-anak sebagai kelompok paling rentan. Dalam konteks ini, trauma healing bukan sekadar program pelengkap pascabencana, melainkan menjadi upayastrategis negara untuk memulihkan dan melindungi masa depan generasi terdampak. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa anak-anak mencakup sekitar sepertiga dari total pengungsi pascabencana di Sumatra dan Aceh. Kondisi tersebut menempatkan mereka padasituasi krisis berlapis, mulai dari kehilangan rasa aman, keterputusan akses pendidikan, hinggatekanan psikologis akibat pengalaman traumatis. Wakil Ketua Komisi Perlindungan AnakIndonesia (KPAI), Jasra Putra, menegaskan bahwa pemulihan mental dan sosial anak harusditempatkan sebagai prioritas utama dalam penanganan bencana, karena trauma yang tidaktertangani berpotensi menghambat perkembangan kognitif dan emosional anak dalam jangkapanjang. Pendekatan trauma healing yang didorong KPAI menempatkan anak bukan hanya sebagaikorban, tetapi sebagai subjek pemulihan yang aktif. Melalui konsep eco-healing, anak-anakdiajak berinteraksi kembali dengan lingkungan secara positif. Pendekatan ini menggabungkanpemulihan psikologis dengan edukasi ekologi, sehingga anak tidak tumbuh dengan rasa takutterhadap alam, melainkan dengan kesadaran untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Dalampraktiknya, material sisa bencana dimanfaatkan sebagai sarana ekspresi kreatif, seperti karya seniatau fasilitas belajar sederhana, yang membantu anak memaknai ulang pengalaman traumatissecara konstruktif. Lebih jauh, eco-healing juga diarahkan untuk membangun resiliensi jangka panjang denganmengintegrasikan kearifan lokal. Pelibatan tokoh adat seperti Ninik Mamak di Sumatra Barat dan Tuha Peuet di Aceh memperkuat pemulihan berbasis komunitas. Pola ini menegaskan bahwapemulihan pascabencana tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai sosial dan budaya setempat, yang selama ini terbukti menjadi penopang utama ketahanan masyarakat dalam menghadapi krisis. Selain pemulihan trauma, penciptaan rasa aman menjadi pilar penting dalam perlindungan anakpascabencana. Ketakutan anak terhadap hujan deras, suara alam, atau peningkatan debit air sering kali tidak sebanding dengan tingkat kerusakan fisik yang ada, tetapi berakar padapengalaman traumatis yang belum terselesaikan. Oleh karena itu, edukasi mitigasi bencana perludihadirkan secara konsisten di sekolah darurat, hunian sementara, dan ruang-ruang pengungsian. Langkah ini menjadi krusial mengingat potensi cuaca ekstrem yang masih diprediksi berulang di wilayah Sumatra. Aspek perlindungan anak juga tidak boleh diabaikan dalam situasi pengungsian berkepanjangan. KPAI menyoroti meningkatnya risiko kekerasan terhadap anak, termasuk kekerasan seksual, akibat lemahnya pengawasan dan terbatasnya sistem perlindungan di lokasi pengungsian. Dalamhal ini, pengaktifan kembali sistem rujukan terpadu melalui UPTD Perlindungan Perempuan danAnak, puskesmas, serta posyandu menjadi kebutuhan mendesak. Sinergi dengan aparatkeamanan dan lembaga masyarakat yang berpengalaman dalam perlindungan anak juga menjadilangkah penting untuk memastikan pengungsian tetap menjadi ruang aman. Upaya negara dalam pemulihan trauma pascabencana juga diperkuat oleh keterlibatan institusipendidikan tinggi. Universitas Gadjah Mada (UGM), melalui berbagai unit dan jejaringrelawannya, mengirimkan tim trauma healing ke wilayah terdampak di Aceh, Sumatra Utara, danSumatra Barat. Sekretaris Universitas UGM, Andi Sandi, menyampaikan bahwa keterlibatanperguruan tinggi merupakan bagian dari komitmen pengabdian kepada masyarakat, dengan fokuspada pendampingan psikososial bagi korban bencana. Tim yang diberangkatkan terdiri daritenaga medis, psikolog, serta relawan terlatih yang bekerja sama dengan pemerintah daerahdalam penanganan darurat dan proses pemulihan. UGM juga memberikan perhatian khusus kepada mahasiswa yang keluarganya terdampakbencana. Melalui koordinasi lintas unit, dilakukan asesmen menyeluruh untuk memastikankebutuhan riil mahasiswa terpenuhi, baik dalam bentuk dukungan psikologis, logistik, maupunbantuan finansial sementara. Koordinator Disaster…
Trauma Healing Jadi Pilar Penting Pemulihan Pascabencana Sumatra
Oleh: Bara Winatha*) Bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatra dan Aceh menjadi momentum penguatan kepedulian nasional terhadap perlindungan dan pemulihan anak-anak. Dalam setiap situasi darurat, anak-anak mendapatkan perhatian khusus sebagai generasi penerusbangsa yang harus terus tumbuh dengan semangat, rasa aman, dan optimisme. Upaya pemulihan kesehatan mental melalui program trauma healing hadir sebagai langkah strategisuntuk membantu anak-anak kembali beraktivitas, belajar, dan bersosialisasi secara positif. Pendekatan ini memastikan mereka tetap berkembang secara psikologis dengan dukunganyang tepat dan berkelanjutan. Komitmen tersebut semakin nyata melalui sinergi kuat antaralembaga negara, pemerintah daerah, dan organisasi kemanusiaan yang secara aktifmenghadirkan layanan psikososial berkualitas di wilayah terdampak bencana di Sumatra, sebagai wujud kehadiran negara dalam menjaga masa depan anak-anak Indonesia. Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra, mengatakan penanganan anak korban bencana harus menempatkan pemulihan trauma sebagai prioritas utama. Menurutnya, anak-anak mencapai…
Magang Nasional 2026 Diperluas, Ribuan Lulusan Disiapkan Masuk Dunia Kerja
Jakarta – Program Magang Nasional 2026 resmi diperluas sebagai bagian dari upaya strategis pemerintah dalam mempercepat penyerapan tenaga kerja muda dan meningkatkan kesiapan lulusan memasuki dunia kerja. Dengan kuota peserta yang terus diperluas, Magang Nasional diproyeksikan menjadi jembatan penting antara…
Pemerintah Perkuat Tata Kelola Program Magang Nasional 2026
Jakarta — Pemerintah terus memperkuat tata kelola Program Magang Nasional sebagai salah satu kebijakan strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul dan berdaya saing. Pada 2026, pemerintah menargetkan perluasan cakupan program dengan kuota mencapai 100 ribu lulusan baru, sekaligus meningkatkan…
Pemerintah Kawal Transisi Lulusan ke Dunia Profesional Lewat Program Magang Nasional
Oleh: Citra Kurnia Khudori)* Transisi dari bangku pendidikan ke dunia kerja kerap menjadi fase paling menentukan bagi lulusan perguruan tinggi. Tanpa pengalaman kerja yang memadai, banyak lulusan menghadapi kesenjangan antara kompetensi akademik dan kebutuhan nyata industri. Situasi tersebut mendorong negara untuk…
