Jakarta – Pengamat Energi Godang Sitompul menilai visi Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada energi dan pangan merupakan langkah strategis menuju kemandirian serta ketahanan nasional yang berkelanjutan, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional.
Pengamat Energi, Godang Sitompul mengatakan keseimbangan antara konsumsi dan ketersediaan pasokan energi menjadi faktor krusial yang harus dijaga pemerintah.
“Di tengah tingginya kebutuhan energi, keseimbangan antara konsumsi dan ketersediaan pasokan menjadi hal yang krusial. Oleh karena itu, visi Presiden Prabowo dalam mewujudkan swasembada energi dan pangan merupakan langkah besar menuju kemandirian dan ketahanan nasional yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto memiliki arah kebijakan strategis dalam pengelolaan energi nasional dengan pelaksanaan harian yang dikoordinasikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Melalui Dewan Energi Nasional (DEN), pemerintah menyusun Kebijakan Energi Nasional (KEN) serta Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) sebagai landasan utama dalam perumusan dan pengendalian kebijakan energi.
Pengamat Energi Godang Sitompul menegaskan bahwa saat ini terdapat dua entitas berbeda, yakni Dewan Energi Nasional dan Dewan Umum Energi Nasional, yang memiliki fungsi dan ruang lingkup tugas tidak sama.
“Yang satu menangani kebijakan energi, sementara yang lainnya berfokus pada aspek ekonomi. Melalui Dewan Energi Nasional, kebijakan energi nasional dan RUEN dirumuskan secara komprehensif sebagai acuan pemerintah, khususnya Kementerian ESDM, dalam menjalankan strategi energi nasional,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Kementerian ESDM tengah menyiapkan program Cadangan Penyangga Energi (CPE) sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan energi nasional. Program tersebut bertujuan menyediakan cadangan energi yang disimpan di lokasi tertentu guna menjaga stabilitas pasokan apabila terjadi gangguan.
“Program Cadangan Penyangga Energi ini penting untuk memastikan stabilitas pasokan tetap terjaga ketika terjadi gangguan, baik karena faktor global maupun domestik,” katanya.
Terkait upaya menekan ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM), Pengamat Energi Godang Sitompul menekankan perlunya perluasan pemanfaatan energi terbarukan secara masif guna mendukung energi fosil.
“Pengembangan energi terbarukan harus berjalan berdampingan dengan energi fosil sehingga keduanya saling melengkapi dan memperkuat ketahanan serta kemandirian energi nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah perlu menghitung kebutuhan energi secara cermat dan terukur tanpa bergantung pada satu sumber tertentu. Diversifikasi energi harus terus dilakukan, disertai peningkatan produksi dari lapangan migas yang sudah ada serta percepatan eksplorasi dan penemuan cadangan baru.
Menurutnya, energi surya menjadi salah satu sumber yang perlu terus dikembangkan, terutama di wilayah Indonesia bagian timur yang memiliki tingkat radiasi matahari sangat baik.
“Potensi energi surya di Indonesia timur sangat besar dan dapat menjadi modal utama untuk memperkuat bauran energi nasional sekaligus meningkatkan ketahanan energi jangka panjang,” tutupnya.
