
Aksi OPM di Jila Ancam Warga, Apkam Prioritaskan Pemulihan Keamanan
Leave a Commenton Aksi OPM di Jila Ancam Warga, Apkam Prioritaskan Pemulihan Keamanan
MIMIKA – Dugaan aksi kekerasan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan masyarakat. Dugaan penyanderaan terhadap sejumlah perempuan setelah kontak tembak dengan aparat keamanan menunjukkan masih adanya risiko yang dihadapi warga sipil di wilayah tersebut.
Peristiwa yang dilaporkan terjadi di Kampung Pasir Putih, Distrik Jila, Selasa (18/8/2026), disebut melibatkan 11 perempuan. Dua korban telah ditemukan, masing-masing dalam kondisi meninggal dunia dan mengalami luka serius. Sementara sembilan perempuan lainnya hingga kini belum diketahui keberadaan maupun kondisinya.
Salah satu korban dilaporkan meninggal dunia setelah terkena luka tembak pada bagian perut ketika berupaya menyelamatkan anaknya. Korban lainnya mengalami patah kaki setelah diduga dilempar ke jurang. Warga kemudian melakukan evakuasi terhadap korban yang selamat dan membawanya ke Kampung Pilikogom untuk mendapatkan pertolongan.
Kapolres Mimika AKBP Alredo A. Rumbiak membenarkan bahwa pihaknya menerima laporan mengenai dugaan penyanderaan tersebut. Namun, kepolisian masih melakukan verifikasi untuk memastikan informasi dan kronologi kejadian.
“Saya cek dulu,” ujar Alredo A. Rumbiak.
Dandim 1710/Mimika Letkol Inf Jozanda juga membenarkan informasi tersebut. Aparat keamanan masih mengikuti perkembangan situasi dan melakukan koordinasi untuk menentukan langkah penanganan lebih lanjut.
“Iya benar, nanti saya jelaskan karena masih mengikuti rapat,” tutur Jozanda.
Dugaan aksi tersebut terjadi sehari setelah kontak senjata antara kelompok bersenjata yang dikaitkan dengan OPM dan prajurit TNI pada Senin (17/8/2026). Kontak tembak berlangsung di sekitar Pos Koramil Jila Kodim 1710/Mimika dan Pos Satgas Pam Obvit Yonif 133. Insiden itu mengakibatkan tiga prajurit Satgas Yonif 133 menjadi korban, dengan satu orang gugur dan dua lainnya mengalami luka-luka.
Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan tingginya risiko keamanan yang masih dihadapi masyarakat di wilayah rawan kekerasan. Warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak, semestinya tidak menjadi sasaran dalam konflik bersenjata. Karena itu, perlindungan terhadap masyarakat perlu menjadi bagian utama dalam setiap langkah penanganan keamanan.
Staf Khusus Menteri Pertahanan Bidang Kedaulatan Negara Lenis Kogoya sebelumnya mengecam aksi kekerasan yang menyasar masyarakat Papua. Ia meminta kelompok bersenjata menghentikan berbagai tindakan yang dapat membahayakan keselamatan warga.
“Menghentikan segala bentuk aksi kekerasan, pembunuhan, dan penyiksaan terhadap sesama Orang Asli Papua (OAP) maupun warga sipil lainnya,” tegas Lenis Kogoya.
Menurut Lenis, masyarakat Papua membutuhkan lingkungan yang aman agar dapat menjalankan kehidupan sehari-hari tanpa intimidasi maupun kekerasan. Dalam situasi tersebut, langkah aparat keamanan untuk memberikan perlindungan kepada warga dinilai penting guna mencegah gangguan keamanan semakin meluas.
Lenis juga mengimbau masyarakat di wilayah La Pago, Mee Pago, dan sekitarnya untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi terkait situasi keamanan.
“Masyarakat di wilayah La Pago, Mee Pago, dan sekitarnya untuk tetap tenang dan tidak panik menghadapi isu-isu keamanan yang beredar,” pungkas Lenis Kogoya.
Upaya pemulihan keamanan di Jila diharapkan dapat dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat. Dukungan warga terhadap aparat keamanan juga diperlukan untuk membantu menciptakan kondisi yang kondusif. Di sisi lain, pencarian terhadap sembilan perempuan yang belum ditemukan perlu menjadi prioritas guna memastikan keselamatan seluruh warga terdampak. (*)
