Uncategorized

Pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah Tingkatkan Produktivitas Pertanian Pangan Papua

SORONG — Pemerintah memperkuat produktivitas pertanian pangan di Papua melalui pembangunan infrastruktur yang mendukung ketersediaan air. Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) membangun Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Kampung Kalobo dan Waibu, Papua Barat Daya, untuk menjaga pasokan air bagi lahan pertanian, khususnya saat kondisi cuaca kering.

Pembangunan JIAT menjadi langkah penting untuk mendukung aktivitas pertanian di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air permukaan. Pemanfaatan air tanah melalui sumur bor dan pompa memungkinkan pasokan air tetap tersedia bagi lahan yang belum terjangkau jaringan irigasi permukaan.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pembangunan JIAT diarahkan untuk menjaga ketersediaan air sekaligus mendorong peningkatan produktivitas pertanian masyarakat. Infrastruktur tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan di Papua.

“Melalui JIAT ini, kita ingin memastikan ketersediaan air sehingga produktivitas pertanian meningkat dan ketahanan pangan semakin kuat,” ujar Menteri Dody.

Menurut Dody Hanggodo, pembangunan jaringan irigasi perlu dilakukan secara menyeluruh agar air dapat dimanfaatkan secara optimal oleh petani. Karena itu, fasilitas yang dibangun tidak hanya berupa sumur dan pompa, tetapi juga dilengkapi jaringan saluran tersier.

“Pengembangan JIAT tidak hanya berfokus pada pembangunan sumur dan pompa air tanah, tetapi juga harus dilengkapi jaringan saluran tersier sehingga air dapat dialirkan secara efektif hingga ke lahan pertanian,” tegas Dody.

JIAT di Kampung Kalobo dan Waibu dirancang melayani lahan pertanian sekitar 100 hektare dengan penerima manfaat sekitar 90 petani. Infrastruktur tersebut memiliki panjang jaringan sekitar 10 kilometer dan dilengkapi 80 bangunan pendukung.

Sistem penyediaan air diperkuat 10 titik sumur bor dengan kapasitas debit sekitar 12 liter per detik pada setiap titik. Air kemudian dialirkan melalui jaringan dengan debit layanan sekitar 2,5 liter per detik per titik serta didukung bak penampung berkapasitas 50 meter kubik.

Dody Hanggodo menilai ketersediaan sumber air alternatif penting untuk menjaga keberlanjutan pertanian ketika curah hujan tidak mencukupi.

“Dengan tersedianya sumber air alternatif, lahan pertanian tetap memiliki dukungan pasokan air selama periode kering sehingga kegiatan budi daya dapat berlangsung secara berkelanjutan,” tambah Dody.

Pembangunan tersebut sekaligus menunjukkan perluasan infrastruktur sumber daya air hingga wilayah dengan tantangan geografis. Kehadiran JIAT diharapkan menjaga produktivitas lahan, mendukung produksi pangan, serta memperkuat aktivitas ekonomi petani di Papua Barat Daya. (*)Posted in BERITA TERBARU

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *